“Perjalananku Menggapai Cita”

Perkenalkan namaku Lutfil Hakim, aku lahir di Batang, Jawa Tengah  tanggal 15 November 1990 dari Ayah bernama Daryoso dan Ibu Manisih. Aku anak ke-5 dari 6 bersaudara. Dua orang kakak perempuanku sudah menikah dan ikut suaminya. Dua orang kakak laki-lakiku masih lajang sedangkan adik perempuanku masih menginjak kelas satu SMP.

Aku lulusan STAN tahun 2012 kemarin. sebelum masuk kuliah di STAN, rangkaian perjuangan telah ku lalui. Pada saat kelas XII SMA, sempat kepikiran masuk kedokteran UGM tetapi gak tau kenapa lamaran PMDK aku kirim ke IPB. Beberapa minggu kemudian, alhamdulillah dapet balesan dari IPB kalo aku lolos dan masuk jurusan Agribisnis, jurusan yang memang aku pilih. Awalnya seneng banget, secara udah ketrima di universitas duluan ketimbang temen-temen. Akan tetapi kesenangan berubah jadi kesedihan, saat laporan menghadap ibuku, beliau tidak sanggup membayar iuran sebesar 7,5juta. “uang darimana nak?”, sahutnya. Awan putih berubah jadi kelabu, berasa air mata ingin runtuh, mau bilang apa ke temen-temen dan guru di sekolah? Tanyaku dalam hati. Akhirnya dengan berat hati aku gak jadi ngambil itu kuliah.

Kehidupan masih berlanjut. Ujian nasional telah selesai, pengumuman pun telah lewat dan aku masih bingung mau lanjut kuliah kemana. Karena keterbatasan dalam hal finansial keluarga, aku putuskan buat nyari yang gratisan. Yap, aku coba daftar polisi. Dengan bermodalkan postur yang cukup proporsional, tinggi 175 dan berat badan 64 kg aku daftar jalur polisi Bintara. Akan tetapi nasib berkata lain, aku gagal dalam tes kesehatan. Kembali hati ini bermuram durja, mau dibawa kemana masa depanku? Kemudian salah seorang teman SMP ku dulu, Dian Ayu menyarankan coba aja daftar polisi lagi. Akan tetapi kali ini lebih berat, yaitu jalur Akpol. Nekat aja aku tetep ikut buat nyoba peruntungan. Ternyata benar, memang susah masuk akpol. Kembali kandas niatanku menjadi seorang polisi.

Tetap, kehidupan masih berlanjut. Saat kecewa gara-gara nggak lolos akpol, alhamdulillah dapet kabar gembira. Temenku seperjuangan yang nggak lolos juga, Dian Ayu mengajakku buat daftar sekolah kedinasan di Bogor, yaitu STSN (Sekolah Tinggi Sandi Negara). Alangkah senangnya aku ketika dia menawarkan bakal ngongkosin transportasi dan akomodasi ke Bogor. Setelah bolak-balik ikut tes di sana, nasib masih belum berpihak padaku. Gagal maning- gagal maning, menambah panjang daftar kegagalanku. Kadang aku masih menyesal karena nggak bisa ngambil kuliah yang di IPB.

Mengetahui kondisi keuangan yang minim, tak sedikitpun terbesit keinginanku buat kuliah di universitas negeri. Lebih baik nganggur lalu nyoba tes polisi taun depan. Lalu, diajaklah aku buat daftar kuliah di STAN. Ongkosnya waktu itu cuma Rp.100.000. Sebelumnya, gak begitu tau sih apa itu STAN, yang jelas kuliahnya gratis dan langsung penempatan. Pada saat itu prosedur pendaftaran yang sebelumnya manual datang ke tempat pendaftaran, diganti menjadi sistem online. Akan tetapi, fasilitas yang seharusnya memudahkan menjadi mempersulit ketika halaman web tidak bisa dibuka. Mungkin karena saking banyaknya yang mau daftar sedangkan jaringannya nggak kuat. Banyak yang nyoba daftar tengah malem, ada yang berhasil tetapi tak sedikit pula yang gagal. Beruntunglah bagiku, aku masih ingat waktu itu tanggal 1 Juli 2009 adalah hari  dimana ujian SNMPTN dilaksanakan. Pada saat itu aku ke warnet buat daftar USM STAN. Alhasil sekali nyoba langsung bisa, pendaftaran berhasil. Mungkin faktor temen-temen yang lagi ujian SNMPTN mempermudah jalanku ini. Saat itu, aku memilih tempat ujian di Jakarta.

Bermodalkan buku latihan USM STAN warisan kakakku, aku belajar hampir tiap hari. Terkadang, kuajak teman SMPku, Bangkit Samudro Aji buat belajar bareng biar nggak boring. Tanggal 9 Juli 2009 aku berangkat seorang diri ke Jakarta. Bermodalkan petunjuk kakak kelas yang kuliah di STAN, kulangkahkan kakiku menuju ibukota buat registrasi  dan penentuan lokasi ujian. Daftar ulang selesai, aku dapat lokasi ujian di Stadion Utama Gelora Bung Karno. H-2 menjelang ujian, aku berangkat bersama teman SMAku, Zubin Mehta Noerfuad menuju ibukota. Dalam hatiku, ini kesempatan terakhirku buat ngebuktiin kalau aku bisa. Aku bisa membantu meringankan beban orang tua, terutama ibuku. Tepat tanggal 26 Juli 2009 adalah saat-saat yang menentukan, sebelum ujian tak lupa ku minta doa restu ibuku semoga aku diberikan kemudahan dalam menjawab soal-soal USM.

Satu bulan kemudian, pengumuman USM STAN dirilis tepat jam 11.00 WIB. Dengan jantung berdegup kencang kubawa motor bututku ke warnet buat ngecek pengumuman. Sengaja aku nggak ngasih tau ibuku kalo ini hari pengumuman. Takutnya sih kalo nggak ketrima tapi yang penting optimis toh hasilnya sudah aku pasrahkan sama Allah. Aku download pengumuman USM STAN di web resmi stan.ac.id. Jantungku makin tak karuan, nama yang harusnya bisa dicari dengan ctrl+F tak kupakai. Aku lebih milih scrolling per halaman. Tadaaa…. ketemu! Nama Lutfil Hakim, spesialisasi Akuntansi, pendidikan Jakarta. Spontanitas aku lompat kegirangan sambil teriak-teriak di warnet. Semua orang di sana memperhatikan tingkah anehku, Bodoh amat!!! Orang pertama yang langsung aku beritahu kabar gembira ini adalah ibuku. Betapa girangnya beliau saat tau kalo anaknya keterima di STAN.

Seolah roda kembali berputar mengantarku di puncak rotasi. Kebahagiaan mewarnai hari-hariku di rumah. Setelah mengadakan acara selametan kecil-kecilan, aku berangkat bareng rombongan calon mahasiswa dari Pekalongan-Batang. Di kampus, alhamdulillah ada kakak-kakakku dari IMAKABA (Ikatan Mahasiswa Pekalongan-Batang) yang bersedia menemani mulai daftar ulang hingga mencarikan kami kos-kosan. Setelah muter-muter di beberapa kosan dan tawar menawar dengan yang punya kos, akhirnya dapat juga. Nama kosannya “Wisma Iman”. Di sana aku menempati satu kamar berdua temen SMA ku, Arief Virdian. Telah disepakati satu kamar sewanya 3,5 juta/tahun, jadi kami berdua paruhan 1,75juta. Setelah kami kasih DP 200ribu, sorenya kami pulang kampung dan kembali lagi ke sini untuk Dinamika (Studi Perdana Memasuki Kampus).

Sesampainya di rumah, kusampaikan pada ibuku jumlah biaya kosan yang harus dibayar. Saat itu kondisi keluargaku masih terpuruk. Keluargaku adalah salah satu korban dari keganasan krisis moneter 98 silam. Harta keluargaku digerogoti 3 buah kapal yang makin ke sini bukannya menghasilkan malah merugikan dikarenakan harga BBM yang melonjak drastis dan tak sebanding dengan profitnya. Dampaknya, keluargaku jatuh tersungkur. Saat itu, ibuku bekerja sebagai pedagang sembako di pasar Batang. Untuk mencari uang 2juta, ibuku berusaha “ngutang” dari temannya, sangat miris memang.

Tahun pertama semester awal di STAN, biaya hidupku masih “disusui” kakak perempuanku, Naiul Hana. Tiap bulan aku dikirimnya Rp.200.000,- untuk semua kebutuhanku di sini. Dia pulalah yang memberiku pinjaman modal untuk berjualan pulsa. Allah selalu memberi kemudahan bagi hambanya yang berikhtiar. Alhamdulillah dengan jualan pulsa bisa profit +/- Rp.200.000,- per bulannya. Dengan uang segitu alhamdulillah kebutuhan makanku terpenuhi. Sebab, ada sebuah warung makan “Bu Ilmi” yang menyediakan fasilitas katering makan 3x sehari dengan hanya membayar Rp.250.000,- per bulannya saat itu.

Memasuki awal semester kedua, ingin rasanya aku lepas dari kiriman kakakku. Ingin belajar hidup mandiri. Alhamdulillah, Allah kembali memberiku kemudahan. Seniorku di IMAKABA, Mas Zaenuddin memberiku tawaran mengajar privat. Awalnya agak sedikit ragu karena sama sekali tidak punya pengalaman di bidang ini. Akan tetapi, aku harus optimis bisa, agar harapanku hidup mandiri bisa tercapai. Alhamdulillah, bisa mengajar privat seorang siswa SD di daerah Bintaro, tepatnya di perumahan Kuricang. Dengan fee Rp.240.000,- per 8x pertemuan, ditambah pengahsilanku dari jualan pulsa sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hariku. Dan mulai saat itu aku tak lagi “nyusu” pada kakak perempuanku.

Awalnya aku mengajar privat naik sepeda milik kakak tingkat satu kosanku, Mas Waradhika Hari Ramunggaran. Akan tetapi, aku merasa begitu merepotkannya. Setelah tanya-tanya harga sepeda bekas lewat situs jejaring sosial, tiba-tiba ada sebuah kejutan. Kakak seniorku di IMAKABA, bersedia memberikanku sepedanya untuk kupakai. Setelah ku ambil di kosannya, ternyata kondisinya cukup memprihatinkan. Body nya sudah keropos, bannya sudah koyak, dan rantai sudah karatan tak bisa jalan karena masih nyangkut di gearnya. Batinku, tak apalah niat baik seniorku ini semoga dibalas Allah kelak. Aku bawa sepeda tersebut ke sebuah bengkel sepeda di Ceger. Dengan mengeluarkan biaya perbaikan sebesar Rp.150.000,- kini aku dapat memakai sepeda “baruku”.

Cobaan datang bertubi-tubi menghampiri keluargaku. Ku dapat kabar dari rumah kalau bapak dan ibu akan bercerai. Mereka memang sudah sering bertengkar beberapa tahun ini. Batinku, alangkah indahnya, alangkah bahagianya keluargaku kalaupun hidup dengan secukupnya tapi utuh saling menyayangi satu sama lain. Aku sering cemburu ketika berkunjung ke rumah teman mendapati orang tua mereka masih bercandaan. Kondisi seperti ini yang tak kudapat di keluargaku. Selain pergi dari rumah sejak beberapa tahun lalu, Bapakku juga tak pernah menafkahi keluarganya. Otomatis Ibuku yang jadi tulang punggung keluargaku.

Allah tak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Pada libur semester 2, aku pulang ke Batang. Hari pertamaku di rumah, ada kabar yang tak mengenakkan. Temanku yang masih stay  di kosan, Munawirul Qalbi sms aku kalau dua sepeda di kosan digondol maling. Salah satunya adalah sepeda baruku, yang baru aku dapat beberapa bulan yang lalu. Sedih rasanya saat itu, bagaimana tidak sepedaku tersebut menjadi alat transportasi utamaku untuk mengajar privat serta mobilitas lainnya.

Ketika liburan sudah habis, sudah saatnya aku harus kembali ke perantauan. Aduh, gimana nih, pit siji tok ilang (sepeda satu-satunya hilang). Aku harus bisa berpikir keras untuk memecahkan masalah ini. Beberapa hari aku mengamati sebuah sepeda rusak yang teronggok di parkiran yang deket pos satpam. Aku kalahkan rasa malu untuk menanyakan ke pak security milik siapa sepeda itu dan kenapa dibiarkan saja seperti sebuah rongsokan. Ternyata itu adalah sepeda inventaris STAN yang memang sudah rusak dan tidak dipakai lagi. Kondisi sepeda tersebut juga cukup mengenaskan, dua buah velg nya reyot, bannya sobek-sobek, remnya macet, rantai karatan, tetapi body nya masih kuat. Saat ku bilang aku bermaksud meminjam untuk dipakai mengajar, aku diminta bertemu langsung dengan Komandan Security STAN. Setelah menyampaikan maksud dari peminjaman sepeda tersebut, beliau mengijinkan untuk meminjamkannya. Subhanalloh… Allah kembali memberiku kemudahan. Setelah kembali melakukan reparasi sana-sini, akhirnya aku bisa kembali menaiki sepeda “baruku”. Alhamdulillah…..

Mengajar privat satu orang murid SD dan menjual pulsa masih jadi penghasilan utamaku sampai pertengahan semester ke-4. Dengan sepeda pinjaman STAN ku kayuh hampir 2x seminggu ke rumah muridku. Tak mudah memang, terutama saat musim hujan. Jika turun hujan yang sangat lebat sebelum aku berangkat ngajar, terpaksa aku harus melakukan hal yang unik. Aku hanya punya satu buah payung sebagai senjataku melewati hujan. Karena hujan biasanya disertai angin yang kencang, akan tetap basah pakaian yang aku kenakan walau sudah memakai payung. Kalau memang begitu, biasanya dari kosan aku memakai celana pendek dan singlet. Pakaian yang akan aku pakai untuk mengajar, aku masukkan plastik dan ke dalam tas. Benar saja, pakaian yang aku kenakan pasti basah diguyur hujan. Mampir dulu sejenak di mushola dekat tempatku mengajar, biasanya aku ganti baju di situ. Setelah rapi, barulah aku lanjutkan perjalanan. 😀

Sebelum liburan lebaran tahun 2011 ada kabar gembira dari Ibu Eva, Ibu dari farhan muridku privat. Beliau menawarkanku untuk mengajar murid SD yang notabene adalah anak dari teman beliau. Rumahnya di daerah Pesanggrahan, cukup jauh setelah aku survei dengan sepedaku. Perjalanan ke sana aku tempuh kurang lebih setengah jam dari kosan. Cukup jauh dan cukup melelahkan jika harus ditempuh 2x seminggu, belum lagi jika ada hujan.

Saat liburan lebaran di rumah, aku diskusikan hal ini dengan ibuku. Beliau menyetujui pintaku untuk membawa satu sepeda motor yang bakal kupakai untuk mengajar. Waktu aku tanya ke agen bis, biaya angkut satu buah sepeda motor berkisar antara Rp.270.000 sampai Rp.300.000. Bagiku, harga segitu sangat mahal, bisa aku pakai buat makanku selama satu bulan. Akhirnya aku putuskan untuk membawanya sendiri dari Batang-Bintaro. Terus terang aku buta jalan ke sana karena sama sekali belum pernah menempuh perjalanan naik motor ke jakarta. Dengan bermodalkan google maps, aku berangkat sendiri naik motor dari Batang ke Bintaro. Perjalanan ditempuh selama 10 jam, dan pake acara nyasar sampai ke Depok :D. Aku sampai di kosan dengan kondisi bokong yang mati rasa tetapi merasakan kepuasan yang luar biasa. Perjalanan yang kutempuh mencapai +/- 410 Km dan hanya minum bensin Rp.35.000. Alhamdulillah… bisa hemat ratusan ribu dibandingkan harus diangkut dengan bis.

Motor ini sangat membantu keseharianku. Bagaimana tidak, perjalananku menuju tempat privat yang semula ku tempuh 25 menitan, kini 10 menit saja sudah sampai. Bahkan, sangat bersyukur karena semenjak aku membawa motor, tawaran mengajar makin bertambah. Selain dapat tawaran dari teman sekelasku Surahman, Ibu Eva juga merekomendasikan tiga murid lagi. Jadi waktu semester 5 aku bisa mengajar lima murid, empat murid kelas VI SD, satu murid kelas III SD.

Bulan-bulan di awal tahun 2012 adalah bulan tersibukku saat mengajar. Bagaimana tidak, empat dari lima muridku harus menempuh ujian nasional. Tiap hari pasti mengajar termasuk weekend. Bahkan pernah dalam sehari mengajar mereka semua, tentunya dengan manajemen waktu yang baik. Tiap murid memiliki karakter yang berbeda. Ada yang malas-malasan, ada yang minder, ada yang suka ngobrol, sampai ada yang sangat nakal. Pernah beberapa kali aku dipukuli muridku sendiri. Tak jarang pula ada yang sampai nangis-nangis karena frustasi belajar tiap hari. Bahkan, saat aku UAS pun, malam harinya harus rela menyempatkan waktu untuk mengajar. Layaknya orang tua murid, aku pun ikut was-was ketika murid-muridku menghadapi ujian nasional. Khawatir gimana kalo mereka nggak bisa ngerjain. Dan akhirnya, syukur yang luar biasa ketika mendapat kabar dari orang tua murid kalo mereka semua lulus. Alhamdulillah…

Sebuah berkah yang luar biasa, rasa syukur tak henti-hentinya aku panjatkan. Saat itu penghasilanku sudah lebih dari cukup. Bahkan, pada lebaran tahun 2012 aku sudah bisa “nyandangin” Ibuku, adikku, serta keponakan-keponakanku. Senangnya bisa melihat rekah senyum mereka. Bahagia itu sederhana.

Selain kegiatan mengajar, aku juga aktif di bidang organisasi. Bagiku, softskill itu penting karena di dunia kerja kemampuan ini sangat dibutuhkan. Kemampuan berbicara di depan umum, bersosialisasi, serta bagaimana menghadapi situasi-situasi tertentu. Pada tahun pertama, aku ikut BEM STAN dimana saat itu aku jadi staf di Departemen Pemuda dan Olahraga (DEPORA). Pada tahun kedua aku diberi amanah menjadi ketua umum organisasi kedaerahan IMAKABA. Dan pada tahun ketiga aku belajar tentang kerasnya kehidupan alam serta mendapatkan saudara-saudara baru di kelompok pecinta alam STAPALA. Hobi olahragaku juga mengantarkanku pada beberapa prestasi diantaranya,

  1. Medali perunggu pada kejuaraan Olimpiade antar Perguruan Tinggi Kedinasan (OPTK) Tahun 2011 di IPDN pada cabang bola voli.
  2. Juara umum liga futsal intermediate bersama kelas 2J akuntansi pada tahun 2011 yang saat itu aku meraih predikat top skorer dengan 13 gol dalam 6 pertandingan.
  3. Medali emas pada kejuaraan Pekan Olahraga Nasional STAN (PON STAN) Tahun 2012 yang mewakili Jawa Tengah pada cabang bola voli.

Bagaimana dengan kehidupan perkuliahanku? Apakah terbengkalai? Tentu tidak. Urusan kuliah tetaplah numero uno. Tidak mudah memang kuliah di kampus ini. Aturan yang begitu ketat, kekhawatiran akan dosen-dosen yang terkenal killer, serta ancaman angkat koper jika nilai tak mumpuni. Dari 12x ujian yang harus kuhadapi selama kuliah di STAN 3 tahun, alhamdulillah semua bisa kulewati dengan lancar. Aku bukan orang yang jenius, tapi aku punya orang-orang yang jenius di sekitarku yang selalu membantuku belajar memahami mata kuliah yang susah. Aku bukan orang yang mengerjakan sesuatu asal-asalan. Aku selalu all out dalam segala hal terutama kuliah. Aku tak ingin lulus dari kampus ini hanya sekedar mendapat predikat “lolos”. Aku ingin saat wisuda kelak berada di jajaran cumlauder. Harapan harus sejalan dengan usaha serta diiringi dengan doa. Satu hal yang selalu aku lakukan 5 menit menjelang ujian. Aku selalu menghubungi ibuku, “mak, nyuwun doane nggih mugi ujiane dilancarke” (mak, minta doanya yah, moga ujianku diberi kelancaran).

Di akhir cerita (Wisuda) hasilnya pun sangat memuaskan. Harapanku jadi cumlauder terwujud dan menempati klasemen ke-48 dari satu spesialisasi, akuntansi. Agak cemburu memang, ketika teman-temanku didampingi kedua orang tuanya sedangkan diriku hanya ibu dan kakak laki-lakiku. Yang jelas, aku ingin membanggakan orang-orang yang aku sayangi dan menyayangiku. prinsipku, jika aku tak bisa membuat orang tuaku bangga, aku takkan membuatnya kecewa.

Image

::Aku dan Ibuku sesaat setelah wisuda di SICC, Sentul Bogor::

Saat menulis cerita ini, tiga bulan sudah sejak wisudaku pada 10 Oktober 2012 lalu. Akan tetapi belum juga ada kabar dari Setjen Kementerian Keuangan akan nasib angkatanku. Karena terkena dampak moratorium pegawai, pengangkatan status kami sebagai CPNS masih tertahan, bahkan kami tidak tahu kapan akan diangkat. Kami harus bersabar menghadapi kepastian dalam ketidakpastian ini. Semua jerih payahku selama ini pasti akan dibalas Allah dengan jawaban terindah. Saat ini aku bersama teman-temanku seangkatan ibarat berjalan di tengah lorong yang gelap tetapi kami yakin lorong ini pasti berujung. Kami optimis dan yakin kelak akan mencapai titik terang cahaya di penghujung lorong ini.

Di penutup cerita ini, aku ingin menyimpulkan bahwa perjuanganku mendapatkan bangku kuliah di kampus STAN ini tidaklah mudah, setelah masuk pun api perjuangan tak boleh padam, sudah banyak teman-temanku yang harus drop out dan angkat koper dari sini. Hanya yang terbaik diantara yang baiklah yang bisa menetas dari kampus ini. Selain itu, kampusku telah menjadi “tangga” bagi kaum marjinal yang tak punya ongkos mengenyam bangku kuliah karena memang sebagian besar mahasiswa di sini berasal dari kalangan menengah ke bawah. Di sini kami belajar untuk jujur, berintegritas, serta harus survive dari segala hal. Semua dosen di kampus ini mengajarkan hal-hal yang baik, tak ada satu pun mata kuliah yang mengajarkan bagaiman cara korupsi. Jadi sangat nggak nyambung kalau STAN dianggap sebagi pencetak koruptor.

Harapanku, agar secepatnya bisa diangkat menjadi pegawai baik di Kementerian Keuangan maupun instansi di luar itu. Tak ada sedikitpun ambisi untuk masuk instansi tertentu. Yang jelas, di manapun nantinya aku ditempatkan, aku bakalan all out dan siap mengabdi untuk negara. Aku berjanji, akan menjaga nama baik almamater dan instansiku kelak. Perubahan tak harus dari hal-hal yang besar, cukup yang sederhana dulu, yaitu diri sendiri.

Bagiku, kebahagiaan adalah ketika orang-orang yang aku sayangi bahagia karena ku. Terutama ibuku, Manisih. Tiada hal terindah kecuali membuatmu bangga, Buk. Terima kasih Ibuku,  kebanggaan terbesar bagiku karena aku lahir dari seorang ibu yang kuat, tangguh, dan tegar sepertimu. Aku janji, aku akan membahagiakanmu, ibuku.

36 thoughts on ““Perjalananku Menggapai Cita”

  1. Kisah anda sungguh inspiratif bung. Mungkin beberapa teman di STAN ada yg melalui masa2 kuliah dgn penuh perjuangan tp saya baru mendengar kisahnya dari blog anda. Saya salut dgn cerita anda, semoga cerita anda bs menjadi penyemangat angkatan 2012 (terutama yg melalui kuliah dg perjuangan) apa anda rela perjuangan anda sia2 hanya karena anda tidak bersabar, saya yakin angkatan 2012 suatu saat juga akan duduk berdampingan di ruang kerja dgn angkatan2 sebelumnya (Saya angkatan 2011) hanya maslah waktu dan saya yakin tidak lama lagi. Yang saya heran dengan kondisi sesibuk itu anda bisa meraih cumlaude, sekali lagi saya salut dgn anda. Dan untuk teman2 yg beruntung, yg kuliah tanpa melalui perjuangan seperti salah satunya anda, pandai2lah bersyukur!

  2. pengalamannya menarik 🙂 hanya saja info tentang STANnya masih belum membuat saya mengerti betul tentang bagaimana keadaan STAN ..

      1. untuk tahun 2014
        Total peserta 103.000
        lolos tes tertulis 6.000 (6%)
        lalu tes kesehatan dan kebugaran
        yang tidak lolos 2%
        yang lolos sisanya sekitar 4.000 (4%)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s